Jumat, 16 Maret 2012

Jquery Multi Level Menu Horizontal

Jquery Multi Level Menu Horizontal

Masih membahas tentang cara membuat menu horizontal atau menu navigasi di blog kita, dan dulu sudah pernah saya memposting tentang cara membuat menu horizontal dan menu vertical di blog ini, namun kali ini saya akan menulis tutorial bagaimana membuat menu horizontal yang lebih canggih dibandingkan yang kemaren yaitu membuat multi level menu atau menu bertingkat.

Okkey langsung saja ke cara pembuatanya ya


langkah pertama yaitu masuk pada bagian Design lalu Edit HTML

Masukkan code dibawah ini dibawah code <head>

<!--[if lte IE 7]>
<style type="text/css">
html .jqueryslidemenu{height: 1%;} /*Holly Hack for IE7 and below*/
</style>
<![endif]-->

<script src='http://ajax.googleapis.com/ajax/libs/jquery/1.2.6/jquery.min.js' type='text/javascript'/>
<script src='http://sites.google.com/site/anasprod/jqueryslidemenu.js' type='text/javascript'/>

Lalu masukkan CSS dibawah ini diatas code ]]></b:skin>



.jqueryslidemenu{
font: bold 13px Verdana;
background: #800000;
width:100%;
float:left
}

.jqueryslidemenu ul{
margin: 0;
padding: 0;
list-style-type: none;
}

/*Top level list items*/
.jqueryslidemenu ul li{
position: relative;
display: inline;
float: left;
}

/*Top level menu link items style*/
.jqueryslidemenu ul li a{
display: block;
background: #800000; /*background of tabs (default state)*/
color: white;
padding: 8px 10px;
border-right: 1px solid #778;
text-decoration: none;
}

* html .jqueryslidemenu ul li a{ /*IE6 hack to get sub menu links to behave correctly*/
display: inline-block;
}

.jqueryslidemenu ul li a:link, .jqueryslidemenu ul li a:visited{
color: white;
}

.jqueryslidemenu ul li a:hover{
background:#B30000; /*tab link background during hover state*/
color: white;
}

/*1st sub level menu*/
.jqueryslidemenu ul li ul{
position: absolute;
left: 0;
display: block;
visibility: hidden;
background:#B30000;
}

/*Sub level menu list items (undo style from Top level List Items)*/
.jqueryslidemenu ul li ul li{
display: list-item;
float: none;
}

/*All subsequent sub menu levels vertical offset after 1st level sub menu */
.jqueryslidemenu ul li ul li ul{
top: 0;
}

/* Sub level menu links style */
.jqueryslidemenu ul li ul li a{
font: normal 13px Verdana;
width: 160px; /*width of sub menus*/
padding: 5px;
margin: 0;
border-top-width: 0;
border-bottom: 1px solid gray;
}

.jqueryslidemenuz ul li ul li a:hover{ /*sub menus hover style*/
background: #eff9ff;
color: black;
}

/* ######### CSS classes applied to down and right arrow images ######### */

.downarrowclass{
position: absolute;
top: 12px;
right: 7px;
}

.rightarrowclass{
position: absolute;
top: 6px;
right: 5px;
}
#footheader {
width: 100%;
float:left;
margin:0 0 0;
padding:0 0 0;
position:relative;
}
Code diatas adalah style dari menu Anda, silahkan edit sesuai kebutuhan Anda.

Nah kalau sudah kita menuju kebawah untuk mencari code seperti dibawah ini


<div id='header-wrapper'>
<b:section class='header' id='header' maxwidgets='1' showaddelement='no'>
<b:widget id='Header1' locked='true' title='Bisnis Di Internet (Header)' type='Header'/>
</b:section>
</div>

Perhatikan saja code yang berwarna merah karena code yang berwarna hitam diatas berbeda-beda setiap template

lalu taruh code dibawah ini dibawah code yang diatas tadi


<div id='footheader'>
<b:section class='footheader' id='footheader' preferred='yes'>
</b:section>
</div>

Kalau sudah SAVE

Pekerjaan kita belum selesai, langkah selanjutnya yaitu menuju menu "Page Elements"



Terlihat pada "Page Elements" muncul tempat gadget baru, lalu klik aja "Add a gadget" dan pilih HTML/JavaScript dan masukkan code dibawah ini.

<div id="myslidemenu" class="jqueryslidemenu">
<ul>
<li><a href="/">Home</a></li>
<li><a href="http://sangmerak.blogspot.com">SangMerak</a></li>
<li><a href="#">Kategori</a>
<ul>
<li><a href="#">Sub Kategori 1</a></li>
<li><a href="#">Sub Kategori 2</a></li>
</ul>
</li>
<li><a href="#">Item 3</a></li>
<li><a href="#">Folder 2</a>
<ul>
<li><a href="#">Sub Item 2.1</a></li>
<li><a href="#">Folder 2.1</a>
<ul>
<li><a href="#">Sub Item 2.1.1</a></li>
<li><a href="#">Sub Item 2.1.2</a></li>
<li><a href="#">Folder 3.1.1</a>
<ul>
<li><a href="#">Sub Item 3.1.1.1</a></li>
<li><a href="#">Sub Item 3.1.1.2</a></li>
</ul>
</li>
<li><a href="#">Sub Item 2.1.4</a></li>
</ul>
</li>
</ul>
</li>
<li><a href="http://tutorial-jitu.blogspot.com">Tutorial Blog</a></li>
</ul>
<br style="clear: left" />
</div>

Nah code diatas adalah code dari widgetnya silahkan di edit sesuai kebutuhan Anda.

Kalau sudah silahkan di SAVE deh.

Nah semoga tutorial ini bisa bermanfaat bagi Anda dan silahkan tanyakan pada saya lewat komentar jika ada pertanyaan. Miss u all. bye²

Kamis, 15 Maret 2012

PERAN TNI AU DALAM SEJARAH PEMBENTUKAN BANDAR UDARA SYAMSUDIN NOOR KALIMANTAN SELATAN

Tentara Nasional Indonesia-Angkatan Udara (TNI-AU) adalah bagian dari Tentara Nasional Indonesia yang dipimpin oleh Kepala Staf TNI Angkatan Udara yang disingkat KASAU yang pada saat ini dijabat oleh Marsekal TNI Subandrio. Saat ini TNI-AU memiliki dua komando operasi yaitu Komando Operasi Angkatan Udara I (Koops AU I) yang bermarkas di Halim Perdanakusumah, Jakarta dan Komando Operasi Angkatan Udara II (Koops AU II) yang bermarkas di Makassar. Sedangkan Wilayah Kalimantan Selatan masuk dalam jajaran Koop AU II yang bermarkas di Makasar.

SEJARAH AWAL MULA TERBENTUKNYA BADAR UDARA
Siapa yang tidak kenal Bandara Syamsuddin Noor yang sekarang kita kenal ini ..! dahulu di sebut dengan sebutan Pangkalan Udara Ulin Banjarmasin yang merupakan pangkalan udara yang berada di Kalimantan Selatan. Pada awal perkembangannya telah ikut mewarnai pelaksanaan perjuangan dalam rangka merebut dan mempertahankan kemerdekaan negara Republik Indonesia. Pangkalan Udara Ulin Banjarmasin dibangun pada mulanya oleh  pemerintahan pendudukan Jepang pada tahun 1944 dan terletak disebelah selatan Jalan A. Yani Km 25 Landasan Ulin Banjarbaru. Tepatnya pada posisi koordinat 03 270 S 114 450 E, serta pada masa itu hanya memiliki ukuran landasan panjang 2.220 meter dan lebar 45 meter.

Berakhirnya masa pendudukan Jepang di tandai serangan Belanda yang kiat meningkat sehingga bandar udara yang dibuat Jepang hancur luluh lantak di boombardir oleh tentara sekutu, kemudian pada tahun 1948 landasan tersebut di renovasi oleh pemerintahan pendudukan Belanda ( NICA ) dengan  Pengerasan landasan udara dengan pondasi  batu setebal 10 cm.

Setelah sekian lama di pakai Belanda dalam perkuatan armada udaranya akhirnya pada tanggal 1961 Belanda Jatuh ke tangan Indonesia itu terbukti Saat pengakuan Belanda dan Dunia Internasional kepada kedaulatan RIS (Republik Indonesia Serikat) , pengelolaan lapangan terbang Ulin kemudian dilakukan oleh Pemerintah Daerah / Dinas Pekerjaan Umum, dan pada Pemerintahan RI (khususnya Departemen Pertahanan Udara dalam hal ini TNI AU) kemudian pada akhirnya pengelolaan ini dilimpahkan sepenuhnya kepada Kementrian Perhubungan Jawatan Penerbangan Sipil.
Dalam masa pembangunan mengisi kemerdekaan maka pada tahun 1974 landasan pacunya telah mampu didarati oleh pesawat udara jenis Fokker F-28, dan pada tahun 1977 diresmikan landasan pacu yang baru terletak sekitar 80 meter sebelah utara landasan pacu yang lama dengan kemampuan DC-9 terbatas.


PERGANTIAN NAMA PANGKALAN UDARA ULIN MENJADI PANGKALAN UDARA SYAMSUDDIN NOOR
Peranan Pangkalan Udara Ulin Banjarmasin sudah cukup banyak dalam mendukung kegiatan operasi, baik operasi Udara maupun operasi darat, tentu dengan kiprah Pangkalan Udara tersebut telah membawa harum bagi daerah Kalimantan Selatan,  namun keharuman itu belumlah lengkap apabila sederetan Pahlawan Nasional Putra Kalimantan Selatan tidak diabadikan seperti mencantumkan nama pahlawan melalui nama jalan, lambang satuan, nama gedung atau sarana umum lainnya.

Guna mengenang kembali jasa para Pahlawan Nasional yang berasal dari daerah Kalimantan Selatan, maka Pemerintah Daerah melalui Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kalimantan Selatan mengusulkan agar Pangkalan Udara Ulin Banjarmasin dapat digantikan dengan nama Pahlawan Nasional asal Putra Daerah Kalimantan Selatan.

Sederetan nama Pahlawan Nasional baik dari kalangan Militer maupun sipil mulai diusulkan, semula diusulkan untuk mengganti nama Pangkalan Udara Ulin Banjarmasin dengan Pangkalan Udara Supadio mengingat Komodor Udara Supadio adalah Panglima Komando Wilayah Udara Kalimantan yang pertama namun Pemerintah Propinsi Kalimantan Selatan belum menyetujuinya, kemudian diusulkan kembali nama putera daerah yang banyak andil dalam menegakkan negeri ini seperti Pangeran Antasari dan Sjamsudin Noor. Dari kedua nama Pahlawan Nasional tersebut mulai diperdebatkan, mengingat nama satuan yang akan diberikan merupakan unsur dari penerbangan, maka untuk mengenang kembali jasanya yang banyak dalam menegakkan dan memajukan penerbangan Nasional dimana pengabdian dan pengorbanan tanpa pamrih dari almarhum Letnan Udara Satu Anumerta Sjamsudin Noor, maka Pimpinan Pangkalan Udara Banjarmasin saat itu mengusulkan penggunaan nama Sjamsudin Noor yang telah gugur dalam menunaikan tugas negara, patut menjadi contoh suri tauladan bagi segenap putra Indonesia dan warga AURI pada Khususnya.
Atas pengorbanan dan jasa-jasa Letnan Udara Satu Anumerta Sjamsudin Noor maka pimpinan Pangkalan Udara Ulin Banjarmasin mengusulkan nama Sjamsudin Noor sebagai pengganti nama Pangkalan Udara Ulin Banjarmasin. Setelah melalui berbagai pertimbangan dan pembicaraan antara Pimpinan Pangkalan Udara Ulin Banjarmasin dengan Pemerintah Daerah Kalimantan Selatan, setelah tercapai kesepakatan dengan pemerintah daerah Kalimantan selatan yang tertuang dalam Surat Keputusan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kalimantan Selatan Nomor 4 / DPRD / KPT / 1970 Tanggal 13 Januari 1970 tentang Perubahan Nama Lapangan Udara Ulin menjadi Lapangan Udara Sjamsudin Noor, maka diusulkan oleh Pangkalan Udara Ulin Banjarmasin kepada pimpinan Angkatan Udara di Jakarta untuk mengganti nama Pangkalan Udara Ulin Banjarmasin, menjadi Pangkalan Udara Sjamsudin Noor, maka berdasarkan surat keputusan Kepala Staf Angkatan Udara No 29 Tanggal 21 Maret 1970 nama Pangkalan Udara Ulin Banjarmasin secara resmi diganti dengan nama Pangkalan Udara Sjamsudin Noor, berlaku mulai tanggal 09 April 1970.

Dengan perkembangan yang begitu pesat maka pada tahun 1975 telah ditetapkan bahwa pangkalan Udara Ulin Banjarmasin sebagai lapangan terbang sipil yang dikuasai sepenuhnya oleh Departemen Perhubungan melalui keputusan bersama Menteri Pertahanan Keamanan / Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia, Menteri Perhubungan RI dan Menteri Keuangan RI Nomor : Kep / 30 / IX / 1975, No KM / 598 / 5 / Phb-75 dan No Kep. 927.a / MK / IV / 8 / 1975.

BANDAR UDARA SYAMSUDIN NOOR DI ERA SEKARANG

Pada diera sekarang  Bandar Udara Syamsudin Noor sudah mampu di darati oleh Pesawat komersial berbadan Lebar seperti jenis boing 747, sehingga pengembangan kedepan Bandar Udara Syamsudin Noor akan di tingkatkan menjadi bandara Internasional pada Massa Pemerintahan Syahriel Darham.  Adapun spesifikasi Bandara Syamsudin Noor bisa anda lihat di link di bawah ini: 
Spesifikasi Bandara Syamsudin Noor

PERISTIWA MEMBANGGAKAN TNI AU DAN BANDARA SYAMSUDIN NOOR DI ERA SEKARANG

- Pesawat Sukhoi  -

Selain mempunyai sejarah yang panjang, Bandara Syamsudin Noor juga pernah mencatat peristiwa bersejarah periode tahun 2000 – 2008 yaitu TNI AU Kalimantan Selatan ikut membantu kelancaran arus mudik dari Banjarmasin menuju Daerah tujuan dengan menyiapkan 10 pesawat Hercules untuk mengantisipasi arus mudik menjelang hari raya Idul Fitri 1428 H.

Selain itu  Bandara Syamsudin Noor pernah juga di pakai dalam
latihan tempur di Pelaihari Kabupaten Tanah Laut Kalimantan Selatan tahun 2007 dengan mengikut sertakan 4 pesawat anyar Indonesia yaitu Sukhoi dan 5 Pesawat jenis hawk juga di persiapkan untuk ikut dalam latihan tempur tersebut.
Pesawat Tempur Hawk

Disamping itu  Bandara Udara Syamsudin Noor sudah di lengkapi dengan fasilitas lapangan tembak dari udara ke darat (Air Weapon Range/AWR)
untuk pesawat-pesawat tempur, AWR Kalimantan Selatan tersebut terletak pada kabupaten Palaihari dengan nama Mauluka Baulin yang sekarang disebut AWR Dwi Harmono. AWR tersebut tepatnya berada di daerah Maluka Baulin Kecamatan Kurau Kabupaten Tanah Laut Kalimantan Selatan yang berjarak sekitar 60 Km dari Lanud Sjamsudin Noor dengan luas tanah 996 Ha.  Pada Posisi 114ŗ 39’ 09” E, 03ŗ 41’ 44” S / 17 NM from BDM – VOR Radial 208ŗ elevasi 64 feet.Dalam Latihan ini akan menggelar penembakan dari udara ke darat seperti Bombing Target dan Strafing Target parallel dengan landasan pacu utama.

RUMAH BULAT, RUMAH BERSEJARAH DI MARABAHAN

Rumah Bulat, demikian masyarakat setempat menyebutnya, merupakan salah satu rumah bertipe joglo. Berlokasi di Jalan Panglima Wangkang RT 8 Kelurahan Marabahan Kota, Kecamatan Bakumpai, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan. Posisinya menghadap Sungai Barito. Jarak dari Banjarmasin ke lokasi lebih kurang 45 km dan bisa ditempuh dengan kendaraan darat (mobil, sepeda motor) atau melalui sungai, yakni dari Sungai Martapura, Sungai Kuin, terus ke Sungai Barito.
Dari beberapa sumber dapat diketahui bahwa Rumah Bulat didirikan oleh seorang demang di Kewedanan Bakumpai bernama H. Abdul Azis sekitar tahun 1875. Rumah ini kemudian digunakan sebagai gudang atau tempat menyimpan barang-barang milik Demang, sedangkan pemiliknya sendiri bertempat tinggal di sebuah rumah yang berada tepat di belakang rumah bulat tersebut.
Nilai terpenting dari rumah tersebut bukan pada arsitekturnya yang dipengaruhi bangunan joglo Jawa, melainkan nilai sejarahnya sebagai bekas markas kaum pergerakan khususnya dari kalangan pemuda Marabahan (dahulu Bakumpai).
Pada mulanya rumah ini pernah digunakan sebagai tempat kegiatan keagamaan H.M. Japeri, salah seorang ulama di Marabahan. Di awal abad ke-20 di rumah ini menjadi tempat perkumpulan musik untuk menampung bakat seni para pemuda Marabahan. Namun lama kelamaan, perkumpulan ini menjadi sebuah organisasi kepemudaan bernama Persatuan Pemuda Marabahan (PPM) dibentuk pada tanggal 1 Maret 1929 dengan ketuanya M. Ruslan, dibantu oleh Suriadi sebagai sekretaris I dan Mawardi sebagai sekretaris II dengan pelindungnya H.M. Arip, bermarkas di sebuah rumah Joglo yang disebut masyarakat setempat dengan nama Rumah Bulat.
Dalam organisasi PPM mereka mendirikan Taman Bacaan (Het Leesgezelschap) dengan nama Family Bond bertempat di Rumah Bulat bergabung dengan perkumpulan musik yang telah ada. Mereka berlangganan surat kabar dan majalah. Dari surat kabar dan majalah tersebut, para pemuda Marabahan dapat mengikuti berita dan membaca tulisan yang mempropagandakan cita-cita kebangsaan yang saat itu telah tumbuh di Jawa maupun ditempat lainnya. Selain itu datangnya tokoh-tokoh pergerakan dari Jawa juga turut mewarnai tumbuhnya benih-benih kebangsaan dan semangat pergerakan di daerah ini.
Pada tahun 1930 Persatuan Pemuda Marabahan memperluas tujuan dan ruang geraknya dengan mensponsori berdirinya Sarekat Kalimantan dengan Pedoman Besarnya H.M. Arip. Perubahan nama menjadi Sarekat Kalimantan antara lain dalam rangka memenuhi syarat untuk menjadi anggota Indonesia Muda yang dibentuk setelah Kongres Pemuda II, 28 Oktober 1928.
Susunan pengurus Sarekat Kalimantan terdiri dari M. Ruslan (Ketua), A. Gani (Wakil Ketua), A. Sunhaji (Penulis I), Sabran (Penulis II), Tambi (Bendahara I), Matran (Bendahara II), dan H. Basirun, Sabran B, Muhiddin serta Imbran (Pembantu-pembantu) dengan Ketua Pedoman Besarnya adalah H.M. Arip. Dalam anggaran dasarnya disebutkan, Sarekat Kalimantan bertujuan ke arah keekonomian dan kesosialan.
Setelah terbentuknya cabang-cabang Sarekat Kalimantan di daerah lainnya di Kalimantan, maka Sarekat Kalimantan melangsungkan kongresnya yang pertama pada tahun 1930 di Bakumpai (Marabahan).
Di Marabahan, atas dorongan H.M. Arip telah berdiri pula PHIS Swasta pada tahun 1929 oleh para pemuda Marabahan yang dikelola oleh Sarekat Islam. H.M. Arip (H. Matarip atau H. Muhammad Arip Bakumpai adalah seorang pedagang kelahiran Bakumpai (Marabahan) yang pulang pergi Banjarmasin – Surabaya. Ketika berada di Surabaya, H.M. Arip turut aktif dalam pergerakan dengan menjabat sebagai Komisaris SI di Surabaya. Dan atas anjuran ketua SI OS Cokroaminoto, H.M. Arip membawa Sarekat Islam ke Kalimantan Selatan.
Mula-mula PHIS dipimpin dan diajar oleh Marjono (pegawai Borneo Post). Mengingat pesatnya perkembangan sekolah tersebut, Marjono mendatangkan teman-temannya yakni Sutomo dan Sunaryo anggota Sarikat Buruh di Surabaya untuk menjadi guru di PHIS.
Pusat kegiatan PHIS bertempat di “Rumah Bulat” bergabung dengan Sarekat Kalimantan (sebelum menjadi BINDO). Sekolah PHIS ini mendapat sambutan hangat dari masyarakat Marabahan, sehingga jumlah muridnya semakin banyak. Guru-guru PHIS menggembleng semangat kebangsaan pemuda-pemuda Marabahan melalui pengajaran dan juga kepanduan yang waktu itu bernama Borneo Padvinder Organisatie (BPO).
Setelah berlangsung enam bulan kegiatan PHIS mendapat perhatian khusus dari Pemerintah Hindia Belanda. Marjono, Sutomo dan Sunaryo dicurigai sebagai anggota partai terlarang. Keterkaitan mereka dengan PARI diketahui Belanda menyusul ditemukannya dokumen-dokumen PARI di Singapura. Diantara dokumen tersebut terdapat surat-surat dari Marjono, Sutomo dan Sunaryo dari Marabahan. Belanda mengambil tindakan tegas dengan menggrebek Rumah Bulat, dan menahan Marjono dan Sunaryo dan selanjutnya dibuang ke Boven Digul (Irian Barat).
Atas anjuran Marjono sewaktu akan ditahan agar kegiatan PHIS tetap dilanjutkan dengan bantuan Taman Siswa, maka tokoh-tokoh Marabahan bersama Sutomo yang muncul kemudian berangkat ke Yogyakarta menemui tokoh-tokoh Perguruan Taman Siswa. Sebagai hasil hubungan itulah pada tahun 1931 Ki Hajar Dewantara mengirimkan guru-guru Taman Siswa yaitu M. Yusak, Sundoro dan Yusyadi.
Sejak PHIS dibantu pengelolaannya oleh ketiga guru tersebut, maka paada tanggal 1 Januari 1931 atas persetujuan bersama ditetapkan bahwa PHIS dijadikan Perguruan Taman Siswa cabang Marabahan dengan kegiatan bertempat di Rumah Bulat. Dari Marabahan, Taman Siswa berkembang di daerah lainnya seperti di Banjarmasin Kandangan, Barabai, Kelua dan Kuala Kapuas.
Sekolah Taman Siswa ini hanya menyelenggarakan pendidikan setingkat Taman Muda atau tingkat pendidikan kelas 4-6 untuk anak-anak berumur 10 s.d. 13 tahun. Meski demikian, orang dewasa juga dapat mengikuti pendidikan yang dikelola Perguruan Taman Siswa pada sore hari.
Setelah tahun 1942, tentara Jepang datang ke Marabahan dan mengambil alih Rumah Bulat. Namun tidak berlangsung lama, karena Marabahan kembali dikuasai oleh NICA menyusul kekalahan Jepang melawan Sekutu dalam Perang Asia Timur Raya.
Sebelum NICA datang, Rumah Bulat sudah terlebih dahulu dikuasai oleh para pemuda Marabahan yang tergabung dalam Pemuda Persatuan Rakyat Indonesia (PPRI). Organisasi ini berdiri pada tanggal 1 November 1945 di¬pimpin oleh M Ruslan, Bahaudin, dan M. Arpan.
Rumah ini juga ditempati oleh Barisan Pemberontak Rakyat Indonesia (BPRI) IX Pelopor, yakni sembilan pelaku ekspedisi dari BPKI Surabaya pimpinan Bung Tomo. Mereka dipimpin oleh H. Ahmad Hasan dan Jaderi, berangkat dari Panarukan (7 November 1945) dengan kapal layar dan berhasil mendarat di Samuda (Sampit) pada tanggal 18 November 1945.
Selanjutnya rombongan tiba di Marabahan dan disambut oleh PPRI. Mereka kemudian rnembentuk Pemerintahan Darurat RI Daerah Marabahan.
Pagi hari tanggal 5 Desember 1945 bendera Merah Putih dikibarkan di depan Kantor Kewedanan Bakumpai, dan dinyatakan bahwa mulai saat itu Kewedanan Bakumpai rnenjadi bagian wilayah Republik Indonesia.
Setelah pengibaran bendera, para pemuda PPRI bersama BPRI dan pejuang lainnya kemudian menyerang posisi KNIL dan Polisi NICA di Marabahan. Dalam pertempuran tersebut Marabahan dapat direbut dan dinyatakan sebagai bagian wilayah RI. Bendera Belanda diturunkan dan diganti dengan Bendera Merah Putih. Peristiwa tersebut sangat heroik, karena Marabahan menjadi wilayah pertama Republik Indonesia di Kalimantan dan untuk pertama kali pula bendera Merah Putih berkibar di bumi Kalimantan Merdeka.

SEJARAH BERDIRINYA UNISKA


Syekh Muhammad Arsyad
Al-Banjary
Universitas Islam Kalimantan (UNISKA) lahir atas gagasan para tokoh-tokoh agama dan tuntutan masyarakat Kalimantan akan adanya perguruan tinggi yang bernafaskan Islam dan melahirkan intelektual muslim.
Cikal bakal berdirinya UNISKA, diawali dengan Pendirian UNISAN (Universitas Islam Antasari) pada tahun 1961 atas ide almarhum K.H. Zafri Zamzam. Pada tahun 1964 UNISAN resmi dijadikan IAIN Antasari yang berafiliasi kepada IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (Cabang Banjarmasin) dengan Rektor (Alm.) KH. Zafri Zamzam sendiri.
Melihat realitas tersebut, dalam seminar “Sejarah Kalimantan Selatan” yang berlangsung di Banjarmasin tanggal 23 s/d 25 September 1973, yang disusul lagi dengan Seminar serupa pada tangal 8 s/d 10 April 1976 para peserta menggugah kembali gagasan mendirikan Perguruan Tinggi Swasta yang mengambil nama Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjary sebagai kenang-kenangan akan jasa Almarhum yang sangat besar sebagai tokoh pembaharu dan penyebar Ilmu Agama Islam pertama di Kalimantan Selatan.
Dipelopori oleh (Alm.) KH. Zafri Zamzam (Rektor IAIN Antasari) dan (Alm.) Prof. Anwari Dilmy (Rektor Universitas Lambung Mangkurat) beserta para tokoh masyarakat Kalimantan Selatan maka didirikanlah Yayasan Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al Banjary dengan Akte Notaris No. 6 Tanggal 7 Juli 1981.

Tepatnya tanggal 14 Juli 1981 pada tahap permulaan di buka dua akademi yaitu :
1. Akademi Publisistik, dengan 125 orang mahasiswa baru, peresmian pembukaan oleh Gubernur KDH Tk.I Kalimantan Selatan
2. Akademi Bahasa Asing, dengan 125 orang mahasiswa baru, yang peresmian pembukaannya oleh Kepala Kantor Wilayah Depdikbud Propinsi Kalimantan Selatan.
Dalam perkembangan selanjutnya pada tahun 1982/1983 yang merupakan tahun ke 2 berdirinya Uniska, setelah memenuhi segala ketentuan untuk peningkatan status akademi menjadi fakultas, maka kedua Akademi tersebut meningkatkan statusnya menjadi:
1. Akademi Publisistik menjadi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Jurusan Komunikasi dengan Program Studi Jurnalistik, dan Jurusan Administrasi dengan Program Studi Administrasi Negara.
2. Akademi Bahasa Asing menjadi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), jurusan Bahasa dan Seni program Studi Bahasa Inggris, dan Jurusan Ilmu Pendidikan dengan Program Studi Psikologi Pendidikan dan Bimbingan. Bersamaan dengan berdirinya kedua Fakultas ini, didirikan pula Fakultas baru yakni; Fakultas Ekonomi dengan Jurusan Manajemen Program studi Manajemen  Perusahaan, dan Fakultas Pertanian dengan Jurusan Peternakan Program Studi Produksi Ternak.
Selanjutnya tahun 1989 atas gagasan dari unsur Universitas (K.H.Gt. Abdul Muis, Drs.H.M. Amberipane, dan H.Syibelie Mahmud,BA), dan unsur Yayasan Uniska (H. Mustafa Ideham dan H. Sutra Alie Syahir, didirikan sebuah Fakultas Agama yakni Fakultas Syari'ah Jurusan Muamalat dan Jinayat, yang pada tahun 1993 mendapatkan Status Terdaftar pada Departemen Agama RI dengan SK Menag.RI No.382 tanggal    28 Desember 1993, dibawah Koordinasi Perguruan Tinggi Agama Islam Swasta (Kopertais Wilayah XI) Kalimantan di Banjarmasin.

Pada tahun 1995 timbul gagasan untuk mendirikan lagi sebuah Fakultas eksakta yakni Fakultas Teknik Mesin, antara lain dikemukakan oleh Rektorat bersama-sama Yayasan Uniska antara lain Drs. H.M. Amberipane (Rektor), Drs. Muhammad Alfani, M.Si (Pb.Rektor I), H. Syibelie Mahmud (Karo Adm.Umum & Keuangan), serta H. Sutera Alie Syahir (Ketua II Yayasan). Gagasan pendirian Fakultas Teknik tersebut didukung oleh Pengurus Senat Uniska MAAB dan Yayasan Uniska, sehingga ditunjuklah Pb. Rektor I Uniska sebagai penanggung Jawab Pendirian, dan Drs. Ir. Sanusi Ditunjuk Sebagai Ketua Panitia Pendirian Fakultas Teknik. Atas dukungan Kopertis Wilayah XI dan Civitas Akademika Uniska maka pada tahun 1998 berdiri Fakultas Teknik Uniska program DIII Teknik mesin sesuai SK.Dirjen Dikti No. 289/DIKTI/Kep/1998 tanggal 14 Agustus 1998.

Demikian pula pada tahun yang sama (1998) terjadi perubahan nama Fakultas Syariah Uniska program studi Muamalat jinayat sesuai dengan Sk. Dirjen Binbaga Islam No.E/163/1998 tentang status terdaftar menjadi Fakultas Agama Islam program studi muamalat.

Melalui Visi Misi Rektor Uniska tahun 2000 Uniska kembali membuat terobosan baru dengan pengusulan pendirian Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM), yang mendapat respon positif dari kalangan Civitas Akademika termasuk pihak Yayasan Uniska, sehingga ditunjuklah panitia Pendirian Fakultas Kesehatan Masyarakat dengan ketua Drs. Deli Anhar. Setelah melalui proses yang cukup panjang maka pada tanggal 15 September 2003 FKM diresmikan oleh Wakil Gubernur Propinsi Kalimantan Selatan (DR. H. Husin Kasah) yang disaksikan oleh Wakadis Kesehatan Propinsi Kalimantan Selatan (dr. Manahan K. Pangribuan), Wakadis Depdiknas Propinsi Kalimantan Selatan (Drs. Humaidi Syukuri Rompas), Pembina Yayasan Uniska (H. Tadjuddin Noor dan H. Sutera Alie Syahir), Pengurus Yayasan (Ir. Gt. Irhamni, MT. dan Pengurus lainnya) yang selanjutnya tanggal 26 September 2003 telah dimulai kuliah perdana oleh dr. H. Zairullah Azhar, M.Sc. (Kepala Dinas Kesehatan Propinsi Kalimantan Selatan) yang diikuti oleh 108 mahasiswa.

Melihat eksistensi Uniska yang semakin maju dan berkembang, maka pada tanggal 9 Nopember 2006, Uniska diberi kepercayaan lagi untuk menyelenggarakan 2 (dua) program studi baru yakni program studi S-1 Teknik Mesin dan S-1 Teknik Informatika dengan Keputusan Dirjen DIKTI Nomor : 4068/D/T/2006 tanggal 9 Nopember 2006.


Kuriding

Ampat si ampat lima ka ay
kuriding patah
patah sabilah, patah sabilah,
di higa lawang
Ampat si ampat lima ka ay
'ku tanding sudah
kada manyama, kada manyama,
nang baju habang

Siapa yang tak kenal dengan lagu tersebut..? ya lagu dengan judul “Ampat Lima” karya H. Anang Ardiansyah ini sangat dikenal masyarakat di Kalimantan Selatan. Namun kenal kah anda dengan “kuriding” tak sedikit yang mungkin tidak tahu seperti apa wujud si “Kuriding”. Dalam tulisan ini saya mencoba untuk menyampaikan sebuah catatan pengalaman berkenalan dengan alat musik tradisional yang sangat langka ini.
Berawal dari informasi seorang teman yang menyampaikan akan ada sebuah pertunjukan kesenian “Kuriding” pada acara pembukaan “Kongres Budaya Banjar II” nah tentunya sangat menarik untuk disaksikan.



Pada acara pembukaan KBB II ditampilkan kesenian “Kuriding” yang dimainkan oleh seniman dari Kabupaten Batola (Marabahan) ternyata mereka yang memainkan ini berasal dari suku Bakumpai yang sudah turun temurun menggeluti kesenian ini.


Dari penuturan salah satu pemain Kuriding yang bernama Ibu Raminah, beliau menceritakan saat ini sudah jarang yang bisa memainkan alat musik ini dan bahkan yang membuatnya pun sudah lama meninggal sehingga mereka hanya bisa memainkan “Kuriding’ peninggalan secara turun temurun namun tidak bisa membuatnya. Memainkan Kuriding perlu keterampilan khusus, “Dulu jumlah kami yang belajar kuriding sekitar 50 orang, tapi terus bermain hanya tiga orang,” kata Raminah sambil memperlihatkan kuriding.


Ia mewarisi kuriding dari ayahnya, lalu menceritakan bahan membuat kuriding dari enau, atau kayu mirip ulin (kayu pangaris) yang hanya ada di daerah Muara Teweh, Barito Utara. Sesulit memainkannya, alat kuriding juga sulit dibuat meskipun tampak sederhana. “Kalau salah membuatnya dapat membahayakan pemain, makanya lagu Kuriding patah itu benar adanya. Sebab, kuriding bisa patah ketika dimainkan dan berakibat membahayakan pemainnya,” terangnya. Melihat kenyataan demikian, perempuan dari suku Bakumpai ini khawatir, generasi muda kini susah belajar bermain musik tradisional Kuriding.




Rasa penasaran dengan alat musik ini semakin meningkat, dengan bantuan salah seorang kawan dari Kota Kandangan, saya memesan 3 buah Kuriding yang dibuat dari kayu Bengkala kepada salah seorang warga Dayak Loksado yang bisa membuat “Kuriding’. Pembuatnya menyampaikan membuat kuriding sangat sulit karena dari sepuluh buah kuriding yang dibuat, yang menghasilkan kualitas bagus hanya 5-6 buah saja. Dan kayu bengkala hanya ada di lereng gunung kentawan (Kec. Loksado)



Guriding atau Kuriding adalah alat musik tradisional asli buatan nenek moyang orang Banua, Kalimantan Selatan. Kuriding terbuat dari bambu atau kayu, berbentuk kecil, dan memiliki alat getar (tali) serta tali penarik. dimainkan dengan cara ditempelkan di bibir sambil menarik gagang tali getar. Bunyi akan muncul ketika tali getar bergetar. Dan bunyi akan terdengar merdu jika sang pemain dapat menarik tali dengan ritme tertentu.

Mitos asal-usul menarik untuk disimak. Syahdan, Guriding adalah milik seekor macan di hutan Kalimantan Selatan. Suatu ketika, sang macan meminta anaknya untuk memainkan guriding. Namun, sang anak justru mati karena tenggorokannya tertusuk guriding. Akibatnya sang macan mewanti-wanti agar anak keturunannya tidak lagi memainkan guriding. Dalam perkembangannya, mitos ini menjadi dasar mitos masyarakat Banjar membunyikan guriding, yakni sebagai alat ampuh untuk mengusir macan. Mereka juga menggantungkan atau meletakkannya di atas tempat tidur anak-anak mereka

Dalam kehidupan sosial dan budaya orang Banjar, guriding memiliki fungsi guna yang beragam, yaitu sebagai alat untuk pelipur lara di kala sepi dan melepas lelah usai bekerja di kebun atau hutan, sebagai alat untuk mengingatkan mereka akan leluhur, dan sebagai media yang disakralkan. Fungsi-fungsi ini masih dipercaya oleh masyarakat hingga kini. Akan tetapi mereka sudah jarang memainkan atau menyimpannya, kecuali mereka yang masih peduli dengan budaya tradisi.

Keberadaan guriding saat ini sangat memprihatinkan, bahkan hampir punah. saat ini hanya dimainkan oleh generasi tua yang tinggal di perkampungan. generasi muda sudah enggan memainkan guriding Selain dianggap sudah ketinggalan zaman, para generasi muda banua lebih suka memainkan alat musik modern, seperti gitar, mendengarkan musik dari radio atau telpon genggam.

Kuriding atau Guriding merupakan peninggalan leluhur yang telah turut menyumbang kekayaan budaya Banjar mestinya dipelihara. Mengingat keberadaannya yang memprihatinkan, maka ini menjadi satu pekerjaan rumah tersendiri bagi Pemerintah Daerah (Pemda) dan para pemerhati budaya Banua untuk menyelamatkan guriding dari kepunahan.


Dan ternyata di daerah lain juga ada alat musik sejenis yang ternyata juga saat ini sangat langka, alat musik Kuriding termasuk dalam kategori alat musik “Jew’s Harp” yang diduga merupakan alat musik paling tua yang ada didunia sebarannya pun bukan hanya di Asia namun juga terdapat di Benua Eropa, dengan nama yang berbeda-beda dan bahannya pun juga beragam. Dari sisi produksi suara pun tak jauh berbeda, hanya cara memainkannya saja yang sedikit berlainan; ada yang di trim (di getarkan dengan di sentir), di tap ( dipukul), dan ada pula yang di tarik dengan menggunakan benang seperti Kuriding.
Di Indonesia alat musik yang sejenis dengan Kuriding juga terdapat di Daerah Istimewa Yogya karta biasanya dimainkan saat menjelang musim panen padi tiba namanya “Rinding”




Saat mulai dimainkan terdengar alunan bunyi yang unik dari bambu pipih yang ditiup dan bambu bulat yang dipukul. ”Inilah Rinding Gumbeng, alat musik yang kami percaya sudah ada sejak jaman purba dan sudah turun-temurun diwariskan kepada kami” ungkap Sudiyo, pimpinan kelompok ”Ngluri Seni” dari Desa Beji Kecamatan Ngawen Kabupaten Gunungkidul.


Nah kalo di Sunda namanya “Karinding”, alat musik ini sudah dikenal dalam kehidupan masyarakat di tatar Sunda sejak abad ke-15. dalam Bahasa Sunda, penyebutan Karinding juga merujuk pada Kakarindingan, yaitu sejenis serangga bersuara nyaring yang hidup di air sawah, saat ini Karinding dapat dijumpai di Kecamatan Cineam, Kab. Tasikmalaya




Selanjutnya di Pulau Dewata (Bali) alat musik ini dinamakan “Genggong”. Desa yang telah memiliki tradisi Genggong yang kuat adalah Batuan (Gianyar). Di sini Genggong dimainkan sebagai pengiring tari, yaitu tari Kodok dan sebagai sajian musik instrumental. Untuk membunyikannya, genggong dipegang dengan tangan kiri dan menempelkannya ke bibir. Tangan kanan memetik "lidah"nya dengan jalan menarik tali benang yang diikatkan pada ujungnya. perubahan nada dalam melodi genggong dilakukan dengan mengolah posisi atau merubah rongga mulut yang berfungsi sebagai resonator.
Kuriding, akan kah selamanya patah di Banua Banjar ini..? Tentunya perlu usaha semua pihak untu pelestariannya termasuk kita generasi muda sebagai pewaris budaya yang patut kita banggakan ini, Kuriding bisa di kolaborasikan dengan alat-alat musik modern yang dapat menghasilkan karya yang yang bisa dinikmati menurut selera anak muda saat ini…maulihat contohnya silahkan anda googling dengan kata “Karinding Attack”
Untuk Banua Banjar Tercinta Kami Berkarya…

Bagandut




Jenis tari tradisional berpasangan yang di masa lampau merupakan tari yang menonjolkan erotisme penarinya mirip dengan tari tayub di Jawa dan ronggeng di Sumatera. Gandut artinya tledek (Jawa).
Tari Gandut ini pada mulanya hanya dimainkan di lingkungan istana kerajaan, baru pada kurang lebih tahun 1860-an tari ini berkembang ke pelosok kerajaan dan menjadi jenis kesenian yang disukai oleh golongan rakyat biasa. Tari ini dimainkan setiap ada keramaian, misalnya acara malam perkimpoian, hajad, pengumpulan dana kampung dan sebagainya.

Gandut merupakan profesi yang unik dalam masyarakat dan tidak sembarangan wanita mampu menjadi Gandut. Selain syarat harus cantik dan pandai menari, seorang Gandut juga wajib menguasai seni bela diri dan mantera-mantera tertentu. Ilmu tambahan ini sangat penting untuk melindungi dirinya sendiri dari tangan-tangan usil penonton yang tidak sedikit ingin memikatnya memakai ilmu hitam. Dahulu banyak Gandut yang diperistri oleh para bangsawan dan pejabat pemerintahan, disamping paras cantik mereka juga diyakini memiliki ilmu pemikat hati penonton yang dikehendakinya. Nyai Ratu Komalasari, permaisuri Sultan Adam adalah bekas seorang penari Gandut yang terkenal.

 Pada masa kejayaannya, arena tari Gandut sering pula menjadi arena persaingan adu gengsi para lelaki yang ikut menari. Persaingan ini bisa dilihat melalui cara para lelaki tersebut mempertontonkan keahlian menari dan besarnya jumlah uang yang diserahkan kepada para Gandut.

Tari Gandut sebagai hiburan terus berkembang di wilayah pertanian di seluruh Kerajaan Banjar, dengan pusatnya di daerah Pandahan, Kecamatan Tapin Tengah, Kabupaten Tapin.

Tari Gandut sejak tahun 1960-an sudah tidak berkembang lagi. Faktor agama Islam merupakan penyebab utama hilangnya jenis kesenian ini ditambah lagi dengan gempuran jenis kesenian modern lainnya. Sekarang Gandut masih bisa dimainkan tetapi tidak lagi sebagai tarian aslinya hanya sebagai pengingat dalam pelestarian kesenian tradisional Banjar.

Tari radap rahayu








Asal muasal Tari Radap Rahayu adalah ketika Kapal Perabu Yaksa yang ditumpangi Patih Lambung Mangkurat yang pulang lawatan dari Kerajaan Majapahit, ketika sampai di Muara Mantuil dan akan memasuki Sungai Barito, kapal Perabu Yaksa kandas di tengah jalan.


Perahu menjadi oleng dan nyaris terbalik. Melihat ini, Patih Lambung Mangkurat lalu memuja “ Bantam” yakni meminta pertolongan pada Yang Maha kuasa agar kapal dapat diselamatkan. Tak lama dari angkasa turunlah tujuh bidadari ke atas kapal kemudian mengadakan upacara beradap-radap. Akhirnya kapal tersebut kembali normal dan tujuh bidadari tersebut kembali ke Kayangan. Kapal melanjutkan pulang ke Kerajaan Dwipa. Dari cerita ini lahirlah Tari “ Radap Rahayu “.

Tarian ini sangat terkenal di Kerajaan Banjar karena dipentaskan setiap acara penobatan raja serta pembesar-pembesar kerajaan dan juga sebagai tarian penyambut tamu kehormatan yang datang ke Banua Banjar, upacara perkimpoian, dan upacara memalas banua sebagai tapung tawar untuk keselamatan. Tarian ini termasuk jenis tari klasik Banjar dan bersifat sakral.Dalam tarian ini diperlihatkan para bidadari dari kayangan turun ke bumi untuk memberikan doa restu serta keselamatan .

Gerak ini diperlihatkan pada gerakan awal serta akhir tari dengan gerak “terbang layang”. Sayair lagu Tari Radap Rahayu diselingi dengan sebuah nyanyian yang isi syairnya mengundang makhluk-makhluk halus ( bidadari ) ketika ragam gerak “Tapung Tawar”, untuk turun ke bumi. Jumlah penari Radap Rahayu selalu menunjukkan bilangan ganjil, yaitu : 1,3,5,7 dan seterusnya. Tata Busana telah baku yaitu baju layang. Hiasan rambut mengggunakan untaian kembang bogam.

Selendang berperan untuk melukiskan seorang bidadari, disertai cupu sebagai tempat beras kuning dan bunga rampai untuk doa restu dibawa para penari di tangan kiri. Seiring lenyapnya Kerajaan Dwipa, lenyap juga Tari Radap Rahayu. Tarian tersebut kembali digubah oleh seniman Kerajaan Banjar bernama Pangeran Hidayatullah. Namun kembali terlupakan ketika berkecamuknya perang Banjar mengusir penjajah Belanda.


Pada tahun 1955 oleh seorang Budayawan bernama Kiayi Amir Hasan Bondan membangkitkan kembali melalui Kelompok Tari yang didirikannya bernama PERPEKINDO ( Perintis Peradaban dan Kebudayaan Indonesia) yang berkedudukan di Banjarmasin. Sampai saat ini PERPEKINDO masih aktif mengembangkan dan melestarikan Tari Radap Rahayu.

Tari Baksa Kembang – Tarian Khas Banjarmasin, Kalimantan Selatan

Tari Baksa Kembang merupakan jenis tari klasik Banjar sebagai tari penyambutan tamu agung yang datang ke Kalimantan Selatan, penarinya adalah wanita. Tari ini merupakan tari tunggal dan dapat dimainkan oleh beberapa penari wanita.
 Tarian ini bercerita tentang seorang gadis remaja yang sedang merangkai bunga. Sering dimainkan di lingkungan istana. Dalam perkembangannya tari ini beralih fungsi sebagai tari penyambutan tamu.

 Tari Baksa Kembang termasuk jenis tari klasik, yang hidup dan berkembang di keraton Banjar, yang ditarikan oleh putri-putri keraton dengan Gerakanya halus, diiringi irama gamelan, busana generlapan.Tari ini memvisualisasikan seorang puteri sdang memetik bunga di taman. Lambat laun tarian ini menyebar ke rakyat Banjar dengan penarinya galuh-galuh Banjar.Tarian ini dipertunjukkan untuk menghibur keluarga keraton dan menyambut tamu agung seperti raja atau pangeran. Setelah tarian ini memasyarakat di Tanah Banjar, berfungsi untuk menyambut tamu pejabat-pejabat negara dalam perayaan hari-hari besar daerah atau nasional.

 Disamping itu pula tarian Baksa Kembang dipertunjukkan pada perayaan pengantin Banjar atau hajatan misalnya tuan rumah mengadakan
selamatan.
 Tarian ini memakai hand propertis sepasang kembang Bogam yaitu rangkaian kembang mawar, melati, kantil dan kenanga. Kembang bogan ini akan dihadiahkan kepada tamu pejabat dan isteri, setelah taraian ini selesai ditarikan.

Sebagai gambaran ringkas, tarian ini menggambarkan putri-putri remaja yang cantik sedang bermain-main di taman bunga. Mereka memetik beberapa bunga kemudian dirangkai menjadi kembang bogam kemudian kembang bogam ini mereka bawa bergembira ria sambil menari dengan gemulai.



Tari Baksa Kembang memakai Mahkota bernama Gajah Gemuling yang ditatah oleh kembang goyang, sepasang kembang bogam ukuran kecil yang diletakkan pada mahkota dan seuntai anyaman dari daun kelapa muda bernama halilipan. Tari Baksa Kembang biasanya ditarikan oleh sejumlah hitungan ganjil misalnya satu orang, tiga orang, lima orang dan seterusnya. Dan tarian ini diiringi seperangkat tetabuhan atau gamelan dengan irama lagu yang sudah baku yaitu lagu Ayakan dan Janklong atau Kambang Muni. Tarian Baksa Kembang ini di dalam masyarakat Banjar ada beberapa versi , ini terjadi setiap keturunan mempunya gaya tersendiri namun masih satu ciri khas sebagai tarian Baksa Kembang, seperti Lagureh, Tapung Tali, Kijik, Jumanang.

Pada tahun 1990-an,
Taman Budaya Kalimantan Selatan berinisiaf mengumpul pelatih-pelatih tari Baksa Kembang dari segala versi untuk menjadikan satu Tari Baksa Kembang yang baku.
Setelah ada kesepakatan, maka diadakanlah workshoup Tari Baksa Kembanag dengan pesertanya perwakilan dari daerah Kabupaten dan Kota se Kalimantan Selatan. Walau pun masih ada yang menarikan Tari Baksa Kembang versi yang ada namun hanya berkisar pada keluarga atau lokal, tetapi dalam lomba, festival atau misi kesenian keluar dari Kalimantan Selatan harus menarikan tarian yang sudah dibakukan.

IAIN Antasari Bakal Berubah

BANJARMASIN – Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Antasari Banjarmasin terus berbenah untuk melangkah tidak hanya jadi Institut, namun akan berkembang nantinya menjadi universitas. Dan apabila target menjadi universitas tercapai, maka namanya pun akan berubah menjadi Universitas Islam Negeri (UIN).
Rektor IAIN Antasari Banjarmasin, Prof. Ahmad Fauzi Aseri mengatakan, demi mendukung perubahan status menjadi UIN, IAIN Antasari terus melakukan inovasi di segala bidang. Salah satu caranya adalah dengan menggunakan Sistem Informasi Akademik (SIAKAD) Terpadu.
“Dengan fasilitas tersebut, masyarakat bisa langsung mengakses website IAIN Antasari untuk mendaftar menjadi calon mahasiswa,” ujarnya saat menghadiri sosialisasi SIAKAD Terpadu, Kamis (10/02).
Di dalamnya, mahasiswa bisa menggunakan fasilitas tersebut antara lain, anjungan mandiri yang bisa digunakan untuk proses registrasi dan her-registrasi mahasiswa. Lalu, juga ada anjungan dosen dan MIKWA (Akademik dan Kemahasiswaan), untuk mengolah Kartu Hasil Studi (KHS), Sistem Keuangan Akademik (SIKEUAK), dan sistem Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB).
Lalu, dalam membantu menunjang keperluan dan menambah semangat mahasiswa dalam perkuliahan, jaringan internet tanpa kabel atau Wi-Fi di setiap fakultas, dan total Wi-Fi yang dipasang mencapai 41 titik. Sehingga dengan dipasang banyak titik-titik Wi-Fi di IAIN Antasari membantu keperluan perkuliahan, dan bisa langsung memanfaatkan jaringan internet dengan mudah.
Semua tadi masih ditambah dengan fasilitas laboratorium multimedia dan warnet dengan 42 unit computer yang dikelola oleh Pusat Komputer (PUSKOM) dan dipusatkan di gedung Pusat Sumber Belajar (PSB).
“Kuatnya tuntutan zaman untuk memanfaatkan kemajuan teknologi informasi saat ini, mau tak mau membuat perguruan tinggi harus melengkapi diri dengan teknologi tersebut untuk berbagai keperluan akademis, betapapun besarnya anggaran yang harus dikeluarkan,” tutup Prof Fauzi. (mr-115)


Rp 7 M Untuk Rumdin Wali

Banjarmasinpost.co.id - Sabtu, 12 Februari 2011

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Wali Kota Banjarmasin, sejak dulu tak pernah memiliki rumah dinas (Rumdin). Menurut Kepala Bagian Perlengkapan Pemko Banjarmasin, Sirajuddin, sesuai aturannya, setiap pejabat negara seperti kepala daerah berhak mendapatkan fasilitas rumdin dari negara.

"Kalau wali kota kita dari dulu tak pernah punya rumdin, itu saya tidak tahu sebabnya," ucapnya, Jumat (11/2).

Direncanakan, tahun ini bakal dibangun rumdin di Jalan Kapten Pierre Tendean. Saat ini, lahan tersebut masih ditempati Kantor Dinas Pendidikan Banjarmasin. Sementara lahan perpustakaan yang ada di halamannya masih milik Pemprov Kalsel dan belum disetujui untuk diberikan.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum Banjarmasin, Nurul Fajar Desira sendiri mengatakan bahwa desain rumdin tersebut direncanakan Rumah Banjar Bubungan Tinggi. "Desain belum dibuat, nanti dulu menunggu lahan perpustakaan disetujui pemprov," katanya. Direncanakan, pembangunannya bakal menelan biaya Rp 7 M. (Yayu)

Gapura Selamat Datang Banjarmasin

bangunan gapura megah berdiri kokoh di jalan utama kota Banjarmasin, proyek pembangunan gapura ucapan selamat datang ini mulai dikerjakan pada awal bulan november 2009.Sesuai dengan tema tradisi kota Banjarmasin, gapura ini menampilkan design arsitektur khas ukiran banua dayak dan dipadukan dengan design arsitektur modern mediterania dengan digunakannya material marmer pada ketiga tiang penyangga utamanya.Rencananya gapura megah ini akan diresmikan oleh gubernur kalsel pada awal tahun 2010, namun belum ada konfirmasi resmi dari pihak pemda setempat kapan rencana peresmian akan dilakukan melihat kota Banjarmasin sedang disibukan dengan persiapan hajatan pemilihan Gubernur Kalsel periode 2010-2015.

Plaza Posindo Banjarmasin

Merupakan salah satu mall yang terletak di Kota Banjarmasin. Selain tempat perbelanjaan, disini juga terdapat tempat hiburan dan diskotik bagi yang ingin bersantai.Alamat : Plaza Posindo Banjarmasin Jl Lambung Mangkurat No 19 Banjarmasin Telp 0511-3363742,

Menilik Perjuangan Rakyat Banjarmasin Di Museum Wasaka

Untuk mengenang perjuangan rakyat Kalimantan Selatan, Pemerintah Kota Banjarmasin mendirikan sebuah museum yang diberi nama Museum Wasaka. Nama Wasaka sendiri berasal dari nama Waja Sampai Ka Puting yang berarti perjuangan yang tiada henti hingga tetes darah penghabisan. Bentuk Museum Wasaka berupa rumah Banjar Bubungan Tinggi. Museum Wasaka terletak di Gang H. Andir, Kampung Kenanga Ulu, Kelurahan Sungai Jingah, Kecamatan Banjarmasin Utara, Kota Banjarmasin.

Kubah Surgi Mufti Di Banjarmasin

Merupakan salah satu objek wisata Religi yang terdapat di Kota Banjarmasin. Nama Mufti sendiri diambil dari nama seorang ulama yang bernama Haji Jamaluddin yang pernah menjadi Mufti di Banjarmasin. Makam ini terletak di Kelurahan Surgi Mufti, Kecamatam Banjarmasin Utara, Kota Banjarmasin.

Danau Riam Kanan – Banjarmasin

Danau Riam Kanan terletak di Desa Aranio, Banjarmasin. Letaknya sekitar 65 km dari Kota Banjarmasin. Danau Riam Kanan merupakan bagian terpenting dari Taman Hutan Raya Sultan Adam karena terdiri dari beberapa tempat wisata, seperti Air Terjun Surian, Riam bagugur dan Hutan Pendidikan

Pantai Takisung

Pantai Takisung adalah merupakan obyek wisata pantai yang mempesona dengan pemandangan pantai dengan aktivitas jual beli ikan segar maupun ikan kering langsung dari nelayan. Ombaknya yang tidak terlalu besar menjadikan Pantai Takisung aman untuk dikunjungi para wisatawan.  Pantai Takisung terletak di Kecamatan Takisung yaitu sebelah barat wilayah Kabupaten Tanah Laut

Pasar Terapung Muara Kuin – Banjarmasin

Mengunjungi Banjarmasin terasa belum lengkap jika belum melihat yang satu ini, Pasar Tradisional yang berada di atas sungai Barito di muara sungai Kuin, Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Para pedagang dan pembeli menggunakan jukung, sebutan perahu dalam bahasa Banjar. Pasar ini mulai setelah shalat Subuh sampai matahari

Pelabuhan Trisakti Banjarmasin

Provinsi Kalimantan Selatan merupakan salah satu provinsi yang mengandalkan transportasi laut sebagai transportasi utama antar pulau dan antar negara baik untuk melayani lalu lintas penumpang maupun barang. Dalam kaitan ini, maka keberadaan pelabuhan laut menjadi sangat vital bagi pergerakan roda perekonomian wilayah ini, dimana kelancaran arus barang baik antar pulau maupun antar negara sangat ditentukan oleh tingkat pelayanan pelabuhan. Semakin besar tingkat pelayanan suatu pelabuhan, maka tingkat kelancaran arus lalu lintas barang akan semakin baik. Pelabuhan Trisakti sebagai salah satu pelabuhan penting di banjarmasin berada di wilayah Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Terbagi atas Pelabuhan penumpang dan pelabuhan barang (export, import, dan lokal).

Cinderamata Kota Banjarmasin


Mungkin anda merupakan salah satu orang pecinta atau pengoleksi cinderamata dari berbagai daerah dan tepat jika anda tengah berkunjung ke Kota Banjarmasin, pasalnya Banjarmasin adalah kota yang memiliki berbagai macam kerajinan tangan dan cinderamata. Kerajinan tangan yang ada di Kota Banjarmasin bukan hanya dihasilkan oleh penduduk Kota Banjarmasin, tetapi juga dari kota dan kabupaten lain di Kalimantan Selatan, sehingga dengan datang ke Banjarmasin wisatawan dapat mengenal  beragam kerajinan khas yang dihasilkan rakyat Kalimantan Selatan.
Terdapat berbagai jenis kerajinan tangan yang dihasilkan industri-industri kecil rumah tangga mulai dari batu-batuan permata hingga berbagai bentuk aksesoris  dan peralatan rumah tangga khas Banjar, suku asli Kalimantan Selatan. Kerajinan Tangan yang dihasilkan warga Kota Banjarmasin sendiri diantaranya berupa kain Sasirangan yang memiliki kombinasi warna dan tekstur sangan khas.
Untuk menemukan berbagai cinderamata tersebut anda dapat mengunjungi ke salah satu tempat yang berada di jalan Pangeran Antasari tepatnya di seberang Mitra Plaza, Banjarmasin. Disitu terdapat Toko Amelia Sasingaran yang menjual berbagai macam produk kerajinan khas kota Banjarmasin.

Teater Tradisional Mamanda, Banjarmasin

Jika di Jakarta terdapat Lenong, di Banjarmasin pun tak ingin kalah karena Banjarmasin memiliki kesenian yang hampir mirip dengan Lenong yaitu Mamanda. Sebuah pementasan tradisional yang biasanya mengambil tema kerajaan zaman dahulu. Bahasa yang digunakan dalam teater ini pun menggunakan bahasa lokal yaitu bahasa Banjar.

Tempat-Tempat Billiard Di Banjarmasin

ni.Mungkin untuk anda yang gemar olahraga ini, dan sedang berlibur di Banjarmasin,tidak perlu khawatir,karena di Banjarmasin sudah banyak tempat-tempat yang bisa anda datangi untuk memuaskan hasrat olahraga anda.Berikut  beberapa tempat Billiard yang berada di Banjarmasin. 
 
1. ZIPP LOUNGE & BILLIARD Alamat            : Hotel Pesona Jl. Brigjend H. Hasan Basri No. 32A Banjarmasin Kapasitas        : 6 unit Telp                : 0511 – 7411188 Fasilitas           : -    Makanan dan Minuman -    Live Music

2. MACY’S BILLIARD Alamat            : Jl. A. Yani Km. 2,5 Banjarmasin Kapasitas        : 12 unit 

3. SANJAYA BILLIARD Alamat             : Jl. K. S. Tubun  No. 35A RT. 01 Banjarmasin Kapasitas        : 11 unit Telp                   : 0511 – 3251121 

4. DC POOL CENTRE Alamat              : Jl Adyaksa No. 4  Banjarmasin Kapasitas         : 20 unit Telp                    : 0511 – 3303466 

5. XPRESSO BILLIARD Alamat              : Ruko Sultan Adam Permai No. 4  Banjarmasin Kapasitas         : 7 unit Telp                   : 0511 – 7565757 

6. METEOR BILLIARD Alamat            : Jl. Kuripan No. 29 RT. 33 Banjarmasin Kapasitas        : 9 unit Telp                   : 0511 – 7411188 Fasilitas           :-  Soft Drink 

7. BILLIARD KING’SAlamat              :  Jl. A. Yani Km. 1No. 36 Banjarmasin Kapasitas         : 23 unit Telp                   : 0511 – 7411188 Fasilitas           :- Soft DrinkX-POOL BILLIARDAlamat              : Jl. Kampung Melayu Barat RT. 8 Banjarmasin Kapasitas         : 17 unit Telp                   : 0511 – 3264655 Fasilitas           :- Snack & Soft Drink 

8. GOLDEN BILLIARD Alamat              : Jl. Cempaka Besar Banjarmasin Kapasitas         : 12 unit Telp                   : 0511 – 3366388 Fasilitas           : -  Snack & Soft Drink 

9. R’THREE POOL & CAFÉ  Alamat            : Jl. H. Anang Adenansi  RT. 01 No. 11 Banjarmasin Kapasitas       : 6 unit Telp                  : 0511 – 7336575 Fasilitas          : – Makanan dan Minuman (Snack & Juice) -         Hotspot 

10. HOKKY 89 POOL Alamat              :  Jl. Lambung Mangkurat No. 62 Banjarmasin Kapasitas         : 15 unit Telp                    : 0511 – 3361919 Fasilitas            : – Makanan dan Minuman -         AC 

11. GG 1001 Alamat              : Jl. Brigjend H. Hasan Basri RT. 18 No. 2-3 Banjarmasin Kapasitas         : 23 unit Telp                    : 0511 – 7546369 Fasilitas            : – Snack dan Soft Drink -  Pelatihan Atlit 
12. ROYAL BILLIARD Alamat            : Duta Mall Jl. A. Yani Km. 2  Banjarmasin Kapasitas        : 21 unit Telp                  : 0511 – 4365888 Fasilitas          : - Menyajikan Makanan Minuman - Menyajikan Live Music pada malam –malam tertentu - Hot Spot - Café

Sekarang anda pilih tempatnya,dan selamat mencoba..

Masjid Sultan Suriansyah Di Banjarmasin

Masjid bersejarah yang di bangun pada masa pemerintahan Sultan Suriansyah(1526-1550) yang merupakan raja Banjar yang pertaman memeluk agama Islam.Terletak di Kelurahan Kuin Utara, Banjarmasin Utara atau yang dikenal sebagai Banjar Lama. Masjid ini merupakan situs Kesultanan Banjar. Masjid ini juga berdekatan langsung dengan komplek makam Sultan Suriansyah. Kekunoan masjid ini dapat dilihat pada 2 buah inskripsi yang tertulis pada bidang berbentuk segi delapan berukuran 50 cm x 50 cm yakni pada dua daun pintu Lawang Agung. Kedua inskripsi ini menunjukan hari senin 10 Sya’ban 1159 telah berlangsung pembuatan Lawang Agung(renovasi masjid) oleh Kiai Demang Astungkara pada masa pemerintahan Sultan Tamjidillah I (1734 -1759).Di dalam masjid juga terdapat sebuah Mimbar kuno yang masih digunakan oleh khatib untuk khutbah Jum’at. Walaupun tidak terlalu besar, Masjid Sultan Suriansyah adalah saksi bisu perkembangan Kota Banjarmasin dari masa ke masa. Lokasinya terletak di  pinggir Sungai Kuin, Kelurahan Kuin Utara Banjarmasin.(disadur dari berbagai sumber).

Legitnya Putu Mayang, Banjarmasin

Berkunjung ke banjarmasin, tidak ada rasa bila tak mencicipi kuliner khas banjar, Putu Mayang adalah makanan tradisional Banjarmasin, makanan ini biasa banyak di temui saat bulan Ramadhan tiba. Selain itu anda juga dapat menemukannya di pasar-pasar tradisional kota Banjarmasin. Makanan yang terbuat dari tepung beras ini sangat digemari khususnya bagi masyarakat kota Banjarmasin. soal harga, tidak akan mencekek dompet anda, 1 porsi berkisar Rp 3.000,-  sampai Rp 4.000,- yang berisi 3-4 putu mayang, kalau mau nambah bisa, Rp 1000,- / buah

Soto Banjar Khas Banjarmasin

Soto Banjar merupakan kuliner khas dari banjarmasin yang terdiri dari ketupat, suwiran ayam, telur dan kuah rempah-rempah. Harga satu porsi sekitar Rp 8.500,-. sampai Rp 15.00,-

daftar warung sop dan soto yang enak di banjarmasin

Daftar Tempat Jajan Sop dan Soto di Banjarmasin
1.SOP Ikan & Sop Udang (RM Sadinah) di A. Yani Km. 5 (Pal 5)

2.Soto Yana Yani,di Sungai Jingah,
3.Soto bang Amat, di pinggir s.martapura, dekat bawah jembatan, benua hanyar
4.soto kuali, di Jl. S parman (depan polda),
5.Soto Surabaya Cak Hari, di jl.gatot subroto. Sebelah distributor susu. ,
6.soto banjar,di komplek meratus di jln rt suprato no 19.,
7.Soto Lamongan di Pelaihari, di Pelaihari Tanah Laut,
8. Sop buntut Banjar Permai, di Jl. A Yani Km.5,5 Perumahan Banjar Permai ( Samping Ratta-Inn ),
9.soto dan sate pahlawan,di jalan pahlawan, dekat toko sasirangan kayuh baimbai
10.depot kalimantan, di Jl. Veteran, seberang Gramedia,


11. jln. kuin cerucuk tepat di muara sungai kuin ( samping pertamina)

 

Rumah adat Banjar

Memiliki Corak yang khas serta memiliki atap yang menjulang tinggi merupakan ciri khas Rumah Banjar. Rumah Banjar pun memiliki berbagai macam jenis yang memiliki ciri tersendiri. Beberapa jenis rumah Banjar antara lain Rumah Tadah Alas, Rumah Gajah Baliku, Rumah Balai Mini dan masih banyak lagi. Ciri lain dari Rumah Banjar yakni terdapat bangunan yang menjorok kesamping kiri dan kanan seperti sayap, bagian bangunan yang menonjol tersebut disebut anjung, ini yang membuat rumah Banjar lebih populer dengan nama RumahBumbungan Tinggi .

Taman Agro Wisata Banjar Bungas

Dengan luas areal kira-kira  satu hektare, menjadikan Taman Agro Wisata Banjar Bungas layak dikunjungi oleh wisatawan.  Sejumlah satwa yang menjadi daya tarik pengunjung adalah orang utan, kera besar, bekantan, owa-owa, menjangan, komodo, sejumlah burung, dan sepasang buaya rawa berukuran besar, serta puluhan anak buaya yang ditangkarkan.

Sejarah Kota Banjarmasin

Nama “Banjarmasin” diambil dari nama “Patih Masih” atau ” Oloh Masih “, Salah seorang pejabat Melayu di Kerajaan Banjar. Raja pertama dari Kerajaan Banjar adalah Pangeran Samudera yang merupakan cucu dari Pangeran Mangkubumi dari Kerajaan Daha (sekarang adalah salah kecamtan dari Kabupaten Hulu Sungai Selatan yang dikenal dengan daerah “Negara” ). Ketika Pangeran Samudera masih kecil dia telah meninggalkan Kerajaan Daha karena adik Pangeran Mangkubumi, bernama Pangeran Tumenggung mengambil alih kekuasaan.Tahun 1595, Kerajaan Banjar diserang oleh Pangeran Tumenggung ialam sebuah Perang Besar antara Prajurit Daha dan Banjar, Prajurit Banjar saat itu didukung oleh Prajurit Kerajaan Demak yang beragama Islam. Pangeran Samudera menang dalam perang tersebut, dan akhirnya memeluk igama Islam dan mengganti namanya menjadi Pangeran Suriansyah atau juga seringkali dikenal dengan sebutan “Panembahan Batu Habang”.Serah terima kekuasaan antara Pangeran Tumenggung dengan Pangeran Suriansyah dilakukan pada tanggal 24 Agustus, yang setiap tahun diperingati sebagai Hari Jadi atau Hari Ulang Tahun Kota Banjarmasin.Kekuasaan Pangeran Suriansyah meliputi bagian Selatan Kalimantan.Peninggalan Kerajaan Banjar yang ada dan terawat dengan baik hingga saat ini adalah Masjid Pangeran Suriansyah, serta makam Pangeran Suriansyah dan beberapa kerabat kerajaan lainnya yang terletak dalam satu komplek pemakaman.
Nama “Banjarmasin” diambil dari nama “Patih Masih” atau ”Oloh Masih“, Salah seorang pejabat Melayu di Kerajaan Banjar. Raja Pertama dari Kerajaan Banjar adalah Pangeran Samudera yang merupakan cucu dari Pangeran Mangkubumi dari Kerajaan Daha (sekarang adalah salah kecamatan dari Kabupaten Hulu Sungai Selatan yang dikenal dengan daerah “Negara” ). Ketika Pangeran Samudera masih kecil dia telah meninggalkan Kerajaan Daha karena adik Pangeran Mangkubumi, bernama Pangeran Tumenggung mengambil alih kekuasaan.
 Tahun 1595, Kerajaan Banjar diserang oleh Pangeran Tumenggung dalam sebuah Perang Besar antara Prajurit Daha dan Banjar, Prajurit Banjar saat itu didukung oleh Prajurit Kerajaan Demak yang beragama Islam. Pangeran Samudera menang dalam perang tersebut, dan akhirnya memeluk agama Islam dan mengganti namanya menjadi Pangeran Suriansyah atau juga seringkali dikenal dengan sebutan “Panembahan Batu Habang”.
Serah terima kekuasaan antara Pangeran Tumenggung dengan Pangeran Suriansyah dilakukan pada tanggal 24 Agustus, yang setiap tahun diperingati sebagai Hari Jadi atau Hari Ulang Tahun Kota Banjarmasin.Kekuasaan Pangeran Suriansyah meliputi bagian Selatan Kalimantan.
Peninggalan Kerajaan Banjar yang ada dan terawat dengan baik hingga saat ini adalah Masjid Pangeran Suriansyah, serta makam Pangeran Suriansyah dan beberapa kerabat kerajaan lainnya yang terletak dalam satu komplek pemakaman.