Tampilkan postingan dengan label objek wisata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label objek wisata. Tampilkan semua postingan

Senin, 08 Oktober 2012

Ornamen Tradisional Khas Banjar

Ornamen sebagai suatu aspek seni rupa telah menga lami perkembangan yang cukup maju dalam budaya tradisional orang Banjar. Ornamen sebagai ragam hias banyak ditemukan di rumah-rumah adat Banjar dan karya seni ini ternyata tak hanya sebagai hiasan tetapi juga sar filosofi.

Ornamen dalam arsitektur tradisional Banjar dikenal dengan istilah Tatah yang berbentuk Tatah surut (ukiran berupa relief), Tatah Babuku (ukiran dalam bentuk tiga dimensi) dan Tatah Baluang (ukiran berlubang).
Dalam buku Arsitektur Tradisional Banjar Kalimantan Selatan, Drs H Syamsiar Seman, mengatakan, dalam sebuah rumah adat Banjar terutama tipe bubungan tinggi, gajah baliku dan palimbangan terdapat dua belas bagian bangunan yang diberi ornamen khas.

Pertama, pucuk bubungan berbentuk lancip yang disebut layang-layang. Layang-layang dalam jumlah yang ganjil (lima) dengan ukiran motif tumbuhan paku alai, bogam, tombak atau keris.
Pada rumah tipe palimasan ornamen berbentuk sungkul dengan motif anak catur, piramida dan bulan bintang. Ukiran jamang sebagai mahkota bubungan terdapat pada rumah adat tipe palimbangan, balai laki, balai bini dan cacak burung. Jamang dalam bentuk simetris ini biasanya bermotif anak catur dengan kiri kanan bermotif paku alai, halilipan atau babalungan ayam.

Kedua, tawing layar atau tampuk bubungan (penutup kuda-kuda). Terutama terdapat pada rumah adat Banjar tipe palimbangan, balai laki dan cacak burung (anjung surung) yang memiliki bubungan atap pelana dengan puncak depan yang tajam. Karena ruangannya terbatas, hiasannya pun tak banyak. Umumnya berupa bundaran yang diapit segitiga dalam komposisi dedaunan. Ornamen di sini selalu dalam komposisi simetris.

Ketiga, pilis atau papilis (listplank). Terdapat pada tumbukan kasau yang sekaligus menjadi penutup ujung kasau bubungan tersebut. Juga pada banturan (di bawah cucuran atap) serta pada batis tawing (kaki dinding) bagian luar. Banyak motif digunakan antara lain rincung gagatas, pucuk rabung, tali bapintal, dadaunan, dalam berbagai kreasi, kumbang bagantung (distiril), paku alai, kulat karikit, gagalangan, i-itikan, sarang wanyi, kambang cangkih, teratai, gigi haruan dan lainnya.

Keempat, tangga. Pada puncak tangga terdapat ornament buah nenas. Adapula motif kembang melati yang belum mekar, tongkol daun pakis, belimbing, manggis, payung atau bulan sabit. Pada panapih tangga biasanya terdapat motif tali bapintal, dadaunan, buang mingkudu dan sulur-suluran. Pada pagar tangga digunakan ukiran tali bapintal atau garis geometris, pada kisi-kisi pagar tangga digunakan motif bunga melati, galang bakait, anak catur, motif huruf S dan berbagai motif campuran.

Kelima, palatar (teras). Bagian depan rumah yang mendapat sentuhan ukiran pada jurai samping kiri dan kanan atas, batis tawing dan kandang rasi. Ornamen pada jurai bisasnya mengambil motif hiris gagatas, pucuk rabung, daun paku atau sarang wanyi. Pada batis tawing bermotif dadaunan, sulur- suluran atau buah mingkudu.

Keenam, lawang (pintu). Bagian-bagian lawang yang diberi ornamen adalah dahi lawang (bagian atas pintu, semacam ventilasi), berukiran tali bapintal dalam bentuk lingkaran bulat telur. Komposisi bagiannya dilengkapi dengan motif suluruluran dan bunga-bungaan dengan kaligrafi Arab antara lain bertulis Laa ilaaha illallah, Muhammadarrasulullah, Allah dan Muhammad.
Kemudian jurai lawang (ornamen mirip tirai terbuka), berbentuk setengah lingkaran atau bulan sabit dengan kombinasi tali bapintal, sulur-suluran, bunga-bunga dan kaligrafi Arab. Tulisan dengan bentuk berganda atau berpantulan dengan komposisi dapat dibaca dari arah kiri ke kanan dan arah kanan ke kiri.
Selanjutnya, daun lawang (daun pintu), selalu menempatkan motif tali bapintal, baik pada pinggiran kusen pintu, maupun hiasan bagian dalam, tali bapintal pada bagian dalam dalam bentuk bulat telur atau hiris gagatas. Keempat sudut daun lawang banyak ornament bermotif pancar matahari dengan kombinasi dedaunan, di antaranya motif daun jaruju.

Ketujuh, lalungkang (jendela). Umumnya menempatkan ornamen sederhana pada dahi atau pula daun lalungkang berupa tatah bakurawang dengan motif bulan penuh, bulan sahiris, bulan bintang, bintang sudut lima, daun jalukap atau daun jaruju.

Kedelapan, watun. Sebagai sarana pinggir lantai terbuka yang diberi ornamen pada panapih yaitu dinding watun tersebut. Ornamen biasanya untuk panapih watun sambutan, watun jajakan dan watun langkahan yang ada pada ruangan panampik kacil, panampik tangah dan panampik basar. Terdapat ukiran dengan motif tali bapintal, sulur-suluran, dadaunan, kambang taratai, kacapiring, kananga, kambang matahari, buah-buahan dan lainnya.

KeSembilan, tataban. Terletak di sepanjang kaki dinding bagian dalam ruang panampik basar. Ukiran di situ adalah pada panapih tataban tersebut. Umumnya sepanjang tataban tersebut mempergunakan ornamen dengan motif tali bapintal pada posisi pinggir. Motif lain pada dedaunan dan sulur-suluran dalam ujud kecil sepanjang jalur tataban tersebut.

Kesepuluh, tawing halat (dinding pembatas). Ornamen di dua daun pintu kembar ini harus seimbang dengan ragam hias. Biasanya motif tali bapintal tak ketinggal, buah dan dedaunan dengan kombinasi kaligrafi Arab.

Kesebelas, sampukan balok (pertemuan balok). Rumah adat Banjar tidak mengenal plafon, sehingga tampak adanya pertemuan dua balok pada bagian atas. Ukiran bermotif dedaunan dan garis-garis geometris.

Keduabelas, gantungan lampu. Balok rentang yang ada di atas pada posisi tengah dipasang pangkal tali untuk gantungan lampu. Sekeliling pangkal gantungan diberi ukiran bermotif dedaunan dan bunga dalam komposisi lingkaran berbentuk relief. (dea)


Artikel ini saya ambil dari salah satu harian terkemuka di Banjarmasin yaitu Banjar masin  Post sebagai Bahan referensi dan klipin digital saya, semoga juga bisa berguna bagi yang lain.

Rabu, 09 Mei 2012

Banjarmasin Berupaya Selamatkan Pasar Terapung

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Pemerintah Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan melalui Dinas Pariwisata berupaya menyelamatkan objek wisata Pasar Terapung dari kepunahan.

Kepala Dinas Pariwisata setempat, Noor Hasan kepada pers di Banjarmasin, Selasa (8/5/2012) mengakui prihatin atas kondisi Pasar Terapung sekarang yang kian waktu terus berkurang aktivitasnya, dan kalau tak diselamatkan diperkirakan akan hilang.

Ia mengakui memang terdapat beberapa persoalan yang menyebabkan objek wisata andalan Banjarmasin itu terus berkurang aktivitasnya.

Persoalan pertama pertumbuhan jalan darat sudah begitu pesat sehingga warga yang tadinya berbelanja hanya melalui sungai kini sudah bisa melalui darat.

Hasil bumi atau hasil pertanian yang tadinya hanya bisa dipasarkan melalui angkutan sungai sekarang sudah banyak jalan darat hingga pemasarannya banyak alternatif.

Kemudian arus lalu-lintas angkutan sungai di kawasan Pasar terapung begitu pesat sehingga menganggu aktivitas para pelaku ekonomi di pasar tersebut.

Tetapi yang paling mengganggu, kata Noor Hasan ada angkutan kapal penyeberangan persis membelah kawasan Pasar terapung, maka bila kapal tersebut melewati kawasan itu para pedagang khususnya ibu-ibu pengayuh sampan menjadi takut oleng sampannya, lalu enggan di kawasan itu.

Akibatnya Pasar Terapung menjadi dua kelompok tidak lagi bersatu seperti dulu, yang membuat kawasan itu mulai kurang menarik, kata Noor Hasan.

Persoalan lain, di dekat itu terdapat pasar di darat yang mengurangi warga yang ada di daratan mengayuh sampannya untuk berbelanja ke Pasar Terapung.

Upaya yang dilakukan untuk menyelamatkan Pasar Terapung tersebut seperti mengimbau kapal penyeberangan itu supaya tak beroperasi di wilayah itu,dan sekarang kapal penyeberangan tersebut tidak beroperasi lagi.

Kemudian meminta pengelola pasar di darat supaya aktivitasnya menghadap ke pasar terapung sehingga menjadi satu kesatuan antara pasar di darat dan pasar di sungai.

Tindakan lainnya, kemungkinan Pemkot menciptakan Pasar Terapung baru di kawasan perairan Pulau Insan, walau nantinya yang dijual bukan semata hasil bumi dan pertanian tetapi lebih ditekankan adalah barang cendramata, demikian Noor Hasan.

Apalagi Pasar Terapung termasuk tiga objek wisata andalan Kalsel, selain Pendulangan Intan dan Pusat penjualan Permata Martapura yang bakal memperoleh bantuan dari pemerintah pusat.

Dengan adanya bantuan pemerintah pusat diharapkan masa mendatang bisa menyelamatkan keberadaan pasar terapung tersebut.
DiKUTIP dari banjarmasinpost 

Pasar Terapung Bakal Dipindah ke Jafri Zamzam

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Rombongan Kerja Kabupaten Malang Provinsi Jawa Timur melakukan kunjungan ke Pemko Banjarmasin. Pertemuan, dilakukan di Aula Kayuh Baimbai Pemko Banjarmasin. Diterima langsung Asisten I Kota Banjarmasin, Gazi Ahmadi dan Kadisbudparpora Kota Banjarmasin, Noorhasan Sonang.

Dalam pemaparannya, Noorhasan yang sebelumnya membawa rombongan ke pasar terapung mengatakan banyak program yang dilakukan untuk menjaga keberadaan Pasar Terapung. Dia mengatakan keberadaan sungai memang sudah jadi andalan bagi Kota Banjarmasin.

Ke depan, program Pasar Terapung akan dikembangkan ke arah sungai dalam kota. "Rencananya Pasar Terapung akan bergeser ke Pasar Terapung dalam kota di Jalan Jafri Zamzam," ujar Noorhasan, Kamis (23/2/2012). 

dikutip dari banjarmasinpost

Senin, 30 April 2012

Sungai Banjarmasin Makin Jelek pH Turun Drastis Akibat Aktivitas Pertambangan

BANJARMASIN – Kualitas air sungai dari tahun ke tahun terus menurun. Berdasar hasil pengujian terakhir pada bulan Maret 2012 di 10 titik, sembilan diantaranya menunjukkan penurunan pH hingga di bawah angka lima atau semakin asam.
    Kepala Badan Lingkungan Hidup Daerah (BLD) Kota Banjarmasin Hamdi mengungkapkan, fenomena tersebut baru terjadi pada tahun ini . Di tahun-tahun sebelumnya, pH air sungai yang diuji masih memenuhi syarat.
    “Yang paling jelek kondisinya sungai di bawah Jembatan Kayutangi dekat RS Ansyari Saleh, pH-nya 3,6. Padahal air normal yang layak untuk kehidupan pH-nya 6-9,” tuturnya.
    Dari analisisnya, penurunan pH ini kemungkinan dipicu dua faktor utama, yakni pengaruh air asam tambang yang mengalir ke sungai dan semakin banyaknya kawasan gambut yang dieksploitasi menjadi perkebunan.
    Kondisi ini, katanya, membutuhkan langkah penanganan yang nyata. Pihaknya pun mengusulkan ke BLH provinsi agar ada pertemuan rutin seluruh BLHD kota dan kabupaten pertiga bulan. “Banjarmasin punya kepentingan besar di sini, karena hulu sungai yang mengalir di daerah kita ada di daerah lain,” imbuhnya.
    Selain pH, pengujian kualitas air sungai yang dilakukan juga meliputi sejumlah parameter lain, yakni BOD, COD, DO, NO3, Fe (besi), Mangan, Seng, Hg (raksa), dan Chrome. Di banding tahun 2010, terjadi penurunan parameter yang mencapai 15 karena terbatasnya anggaran.
    Dibeberkan Hamdi, hampir di semua titik pengujian untuk parameter BOD, COD, dan Fe tidak memenuhi persyaratan. Hal ini dikarenakan banyak limbah yang dibuang ke sungai.
     Dari penelitian BLHD Kota Banjarmasin dan Unlam, sumber pencemaran sungai 51 persen berasal dari rumah tangga dan sisanya dari pertanian dalam arti luas, seperti perikanan dan peternakan. Sedangkan Hg dan Chrome tidak terdeteksi karena kandungan yang sangat kecil.

sumber

Kamis, 15 Maret 2012

Bagandut




Jenis tari tradisional berpasangan yang di masa lampau merupakan tari yang menonjolkan erotisme penarinya mirip dengan tari tayub di Jawa dan ronggeng di Sumatera. Gandut artinya tledek (Jawa).
Tari Gandut ini pada mulanya hanya dimainkan di lingkungan istana kerajaan, baru pada kurang lebih tahun 1860-an tari ini berkembang ke pelosok kerajaan dan menjadi jenis kesenian yang disukai oleh golongan rakyat biasa. Tari ini dimainkan setiap ada keramaian, misalnya acara malam perkimpoian, hajad, pengumpulan dana kampung dan sebagainya.

Gandut merupakan profesi yang unik dalam masyarakat dan tidak sembarangan wanita mampu menjadi Gandut. Selain syarat harus cantik dan pandai menari, seorang Gandut juga wajib menguasai seni bela diri dan mantera-mantera tertentu. Ilmu tambahan ini sangat penting untuk melindungi dirinya sendiri dari tangan-tangan usil penonton yang tidak sedikit ingin memikatnya memakai ilmu hitam. Dahulu banyak Gandut yang diperistri oleh para bangsawan dan pejabat pemerintahan, disamping paras cantik mereka juga diyakini memiliki ilmu pemikat hati penonton yang dikehendakinya. Nyai Ratu Komalasari, permaisuri Sultan Adam adalah bekas seorang penari Gandut yang terkenal.

 Pada masa kejayaannya, arena tari Gandut sering pula menjadi arena persaingan adu gengsi para lelaki yang ikut menari. Persaingan ini bisa dilihat melalui cara para lelaki tersebut mempertontonkan keahlian menari dan besarnya jumlah uang yang diserahkan kepada para Gandut.

Tari Gandut sebagai hiburan terus berkembang di wilayah pertanian di seluruh Kerajaan Banjar, dengan pusatnya di daerah Pandahan, Kecamatan Tapin Tengah, Kabupaten Tapin.

Tari Gandut sejak tahun 1960-an sudah tidak berkembang lagi. Faktor agama Islam merupakan penyebab utama hilangnya jenis kesenian ini ditambah lagi dengan gempuran jenis kesenian modern lainnya. Sekarang Gandut masih bisa dimainkan tetapi tidak lagi sebagai tarian aslinya hanya sebagai pengingat dalam pelestarian kesenian tradisional Banjar.

Tari radap rahayu








Asal muasal Tari Radap Rahayu adalah ketika Kapal Perabu Yaksa yang ditumpangi Patih Lambung Mangkurat yang pulang lawatan dari Kerajaan Majapahit, ketika sampai di Muara Mantuil dan akan memasuki Sungai Barito, kapal Perabu Yaksa kandas di tengah jalan.


Perahu menjadi oleng dan nyaris terbalik. Melihat ini, Patih Lambung Mangkurat lalu memuja “ Bantam” yakni meminta pertolongan pada Yang Maha kuasa agar kapal dapat diselamatkan. Tak lama dari angkasa turunlah tujuh bidadari ke atas kapal kemudian mengadakan upacara beradap-radap. Akhirnya kapal tersebut kembali normal dan tujuh bidadari tersebut kembali ke Kayangan. Kapal melanjutkan pulang ke Kerajaan Dwipa. Dari cerita ini lahirlah Tari “ Radap Rahayu “.

Tarian ini sangat terkenal di Kerajaan Banjar karena dipentaskan setiap acara penobatan raja serta pembesar-pembesar kerajaan dan juga sebagai tarian penyambut tamu kehormatan yang datang ke Banua Banjar, upacara perkimpoian, dan upacara memalas banua sebagai tapung tawar untuk keselamatan. Tarian ini termasuk jenis tari klasik Banjar dan bersifat sakral.Dalam tarian ini diperlihatkan para bidadari dari kayangan turun ke bumi untuk memberikan doa restu serta keselamatan .

Gerak ini diperlihatkan pada gerakan awal serta akhir tari dengan gerak “terbang layang”. Sayair lagu Tari Radap Rahayu diselingi dengan sebuah nyanyian yang isi syairnya mengundang makhluk-makhluk halus ( bidadari ) ketika ragam gerak “Tapung Tawar”, untuk turun ke bumi. Jumlah penari Radap Rahayu selalu menunjukkan bilangan ganjil, yaitu : 1,3,5,7 dan seterusnya. Tata Busana telah baku yaitu baju layang. Hiasan rambut mengggunakan untaian kembang bogam.

Selendang berperan untuk melukiskan seorang bidadari, disertai cupu sebagai tempat beras kuning dan bunga rampai untuk doa restu dibawa para penari di tangan kiri. Seiring lenyapnya Kerajaan Dwipa, lenyap juga Tari Radap Rahayu. Tarian tersebut kembali digubah oleh seniman Kerajaan Banjar bernama Pangeran Hidayatullah. Namun kembali terlupakan ketika berkecamuknya perang Banjar mengusir penjajah Belanda.


Pada tahun 1955 oleh seorang Budayawan bernama Kiayi Amir Hasan Bondan membangkitkan kembali melalui Kelompok Tari yang didirikannya bernama PERPEKINDO ( Perintis Peradaban dan Kebudayaan Indonesia) yang berkedudukan di Banjarmasin. Sampai saat ini PERPEKINDO masih aktif mengembangkan dan melestarikan Tari Radap Rahayu.

Tari Baksa Kembang – Tarian Khas Banjarmasin, Kalimantan Selatan

Tari Baksa Kembang merupakan jenis tari klasik Banjar sebagai tari penyambutan tamu agung yang datang ke Kalimantan Selatan, penarinya adalah wanita. Tari ini merupakan tari tunggal dan dapat dimainkan oleh beberapa penari wanita.
 Tarian ini bercerita tentang seorang gadis remaja yang sedang merangkai bunga. Sering dimainkan di lingkungan istana. Dalam perkembangannya tari ini beralih fungsi sebagai tari penyambutan tamu.

 Tari Baksa Kembang termasuk jenis tari klasik, yang hidup dan berkembang di keraton Banjar, yang ditarikan oleh putri-putri keraton dengan Gerakanya halus, diiringi irama gamelan, busana generlapan.Tari ini memvisualisasikan seorang puteri sdang memetik bunga di taman. Lambat laun tarian ini menyebar ke rakyat Banjar dengan penarinya galuh-galuh Banjar.Tarian ini dipertunjukkan untuk menghibur keluarga keraton dan menyambut tamu agung seperti raja atau pangeran. Setelah tarian ini memasyarakat di Tanah Banjar, berfungsi untuk menyambut tamu pejabat-pejabat negara dalam perayaan hari-hari besar daerah atau nasional.

 Disamping itu pula tarian Baksa Kembang dipertunjukkan pada perayaan pengantin Banjar atau hajatan misalnya tuan rumah mengadakan
selamatan.
 Tarian ini memakai hand propertis sepasang kembang Bogam yaitu rangkaian kembang mawar, melati, kantil dan kenanga. Kembang bogan ini akan dihadiahkan kepada tamu pejabat dan isteri, setelah taraian ini selesai ditarikan.

Sebagai gambaran ringkas, tarian ini menggambarkan putri-putri remaja yang cantik sedang bermain-main di taman bunga. Mereka memetik beberapa bunga kemudian dirangkai menjadi kembang bogam kemudian kembang bogam ini mereka bawa bergembira ria sambil menari dengan gemulai.



Tari Baksa Kembang memakai Mahkota bernama Gajah Gemuling yang ditatah oleh kembang goyang, sepasang kembang bogam ukuran kecil yang diletakkan pada mahkota dan seuntai anyaman dari daun kelapa muda bernama halilipan. Tari Baksa Kembang biasanya ditarikan oleh sejumlah hitungan ganjil misalnya satu orang, tiga orang, lima orang dan seterusnya. Dan tarian ini diiringi seperangkat tetabuhan atau gamelan dengan irama lagu yang sudah baku yaitu lagu Ayakan dan Janklong atau Kambang Muni. Tarian Baksa Kembang ini di dalam masyarakat Banjar ada beberapa versi , ini terjadi setiap keturunan mempunya gaya tersendiri namun masih satu ciri khas sebagai tarian Baksa Kembang, seperti Lagureh, Tapung Tali, Kijik, Jumanang.

Pada tahun 1990-an,
Taman Budaya Kalimantan Selatan berinisiaf mengumpul pelatih-pelatih tari Baksa Kembang dari segala versi untuk menjadikan satu Tari Baksa Kembang yang baku.
Setelah ada kesepakatan, maka diadakanlah workshoup Tari Baksa Kembanag dengan pesertanya perwakilan dari daerah Kabupaten dan Kota se Kalimantan Selatan. Walau pun masih ada yang menarikan Tari Baksa Kembang versi yang ada namun hanya berkisar pada keluarga atau lokal, tetapi dalam lomba, festival atau misi kesenian keluar dari Kalimantan Selatan harus menarikan tarian yang sudah dibakukan.

Gapura Selamat Datang Banjarmasin

bangunan gapura megah berdiri kokoh di jalan utama kota Banjarmasin, proyek pembangunan gapura ucapan selamat datang ini mulai dikerjakan pada awal bulan november 2009.Sesuai dengan tema tradisi kota Banjarmasin, gapura ini menampilkan design arsitektur khas ukiran banua dayak dan dipadukan dengan design arsitektur modern mediterania dengan digunakannya material marmer pada ketiga tiang penyangga utamanya.Rencananya gapura megah ini akan diresmikan oleh gubernur kalsel pada awal tahun 2010, namun belum ada konfirmasi resmi dari pihak pemda setempat kapan rencana peresmian akan dilakukan melihat kota Banjarmasin sedang disibukan dengan persiapan hajatan pemilihan Gubernur Kalsel periode 2010-2015.

Menilik Perjuangan Rakyat Banjarmasin Di Museum Wasaka

Untuk mengenang perjuangan rakyat Kalimantan Selatan, Pemerintah Kota Banjarmasin mendirikan sebuah museum yang diberi nama Museum Wasaka. Nama Wasaka sendiri berasal dari nama Waja Sampai Ka Puting yang berarti perjuangan yang tiada henti hingga tetes darah penghabisan. Bentuk Museum Wasaka berupa rumah Banjar Bubungan Tinggi. Museum Wasaka terletak di Gang H. Andir, Kampung Kenanga Ulu, Kelurahan Sungai Jingah, Kecamatan Banjarmasin Utara, Kota Banjarmasin.

Kubah Surgi Mufti Di Banjarmasin

Merupakan salah satu objek wisata Religi yang terdapat di Kota Banjarmasin. Nama Mufti sendiri diambil dari nama seorang ulama yang bernama Haji Jamaluddin yang pernah menjadi Mufti di Banjarmasin. Makam ini terletak di Kelurahan Surgi Mufti, Kecamatam Banjarmasin Utara, Kota Banjarmasin.

Danau Riam Kanan – Banjarmasin

Danau Riam Kanan terletak di Desa Aranio, Banjarmasin. Letaknya sekitar 65 km dari Kota Banjarmasin. Danau Riam Kanan merupakan bagian terpenting dari Taman Hutan Raya Sultan Adam karena terdiri dari beberapa tempat wisata, seperti Air Terjun Surian, Riam bagugur dan Hutan Pendidikan

Pantai Takisung

Pantai Takisung adalah merupakan obyek wisata pantai yang mempesona dengan pemandangan pantai dengan aktivitas jual beli ikan segar maupun ikan kering langsung dari nelayan. Ombaknya yang tidak terlalu besar menjadikan Pantai Takisung aman untuk dikunjungi para wisatawan.  Pantai Takisung terletak di Kecamatan Takisung yaitu sebelah barat wilayah Kabupaten Tanah Laut

Pasar Terapung Muara Kuin – Banjarmasin

Mengunjungi Banjarmasin terasa belum lengkap jika belum melihat yang satu ini, Pasar Tradisional yang berada di atas sungai Barito di muara sungai Kuin, Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Para pedagang dan pembeli menggunakan jukung, sebutan perahu dalam bahasa Banjar. Pasar ini mulai setelah shalat Subuh sampai matahari

Pelabuhan Trisakti Banjarmasin

Provinsi Kalimantan Selatan merupakan salah satu provinsi yang mengandalkan transportasi laut sebagai transportasi utama antar pulau dan antar negara baik untuk melayani lalu lintas penumpang maupun barang. Dalam kaitan ini, maka keberadaan pelabuhan laut menjadi sangat vital bagi pergerakan roda perekonomian wilayah ini, dimana kelancaran arus barang baik antar pulau maupun antar negara sangat ditentukan oleh tingkat pelayanan pelabuhan. Semakin besar tingkat pelayanan suatu pelabuhan, maka tingkat kelancaran arus lalu lintas barang akan semakin baik. Pelabuhan Trisakti sebagai salah satu pelabuhan penting di banjarmasin berada di wilayah Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Terbagi atas Pelabuhan penumpang dan pelabuhan barang (export, import, dan lokal).

Cinderamata Kota Banjarmasin


Mungkin anda merupakan salah satu orang pecinta atau pengoleksi cinderamata dari berbagai daerah dan tepat jika anda tengah berkunjung ke Kota Banjarmasin, pasalnya Banjarmasin adalah kota yang memiliki berbagai macam kerajinan tangan dan cinderamata. Kerajinan tangan yang ada di Kota Banjarmasin bukan hanya dihasilkan oleh penduduk Kota Banjarmasin, tetapi juga dari kota dan kabupaten lain di Kalimantan Selatan, sehingga dengan datang ke Banjarmasin wisatawan dapat mengenal  beragam kerajinan khas yang dihasilkan rakyat Kalimantan Selatan.
Terdapat berbagai jenis kerajinan tangan yang dihasilkan industri-industri kecil rumah tangga mulai dari batu-batuan permata hingga berbagai bentuk aksesoris  dan peralatan rumah tangga khas Banjar, suku asli Kalimantan Selatan. Kerajinan Tangan yang dihasilkan warga Kota Banjarmasin sendiri diantaranya berupa kain Sasirangan yang memiliki kombinasi warna dan tekstur sangan khas.
Untuk menemukan berbagai cinderamata tersebut anda dapat mengunjungi ke salah satu tempat yang berada di jalan Pangeran Antasari tepatnya di seberang Mitra Plaza, Banjarmasin. Disitu terdapat Toko Amelia Sasingaran yang menjual berbagai macam produk kerajinan khas kota Banjarmasin.

Teater Tradisional Mamanda, Banjarmasin

Jika di Jakarta terdapat Lenong, di Banjarmasin pun tak ingin kalah karena Banjarmasin memiliki kesenian yang hampir mirip dengan Lenong yaitu Mamanda. Sebuah pementasan tradisional yang biasanya mengambil tema kerajaan zaman dahulu. Bahasa yang digunakan dalam teater ini pun menggunakan bahasa lokal yaitu bahasa Banjar.

Masjid Sultan Suriansyah Di Banjarmasin

Masjid bersejarah yang di bangun pada masa pemerintahan Sultan Suriansyah(1526-1550) yang merupakan raja Banjar yang pertaman memeluk agama Islam.Terletak di Kelurahan Kuin Utara, Banjarmasin Utara atau yang dikenal sebagai Banjar Lama. Masjid ini merupakan situs Kesultanan Banjar. Masjid ini juga berdekatan langsung dengan komplek makam Sultan Suriansyah. Kekunoan masjid ini dapat dilihat pada 2 buah inskripsi yang tertulis pada bidang berbentuk segi delapan berukuran 50 cm x 50 cm yakni pada dua daun pintu Lawang Agung. Kedua inskripsi ini menunjukan hari senin 10 Sya’ban 1159 telah berlangsung pembuatan Lawang Agung(renovasi masjid) oleh Kiai Demang Astungkara pada masa pemerintahan Sultan Tamjidillah I (1734 -1759).Di dalam masjid juga terdapat sebuah Mimbar kuno yang masih digunakan oleh khatib untuk khutbah Jum’at. Walaupun tidak terlalu besar, Masjid Sultan Suriansyah adalah saksi bisu perkembangan Kota Banjarmasin dari masa ke masa. Lokasinya terletak di  pinggir Sungai Kuin, Kelurahan Kuin Utara Banjarmasin.(disadur dari berbagai sumber).

Taman Agro Wisata Banjar Bungas

Dengan luas areal kira-kira  satu hektare, menjadikan Taman Agro Wisata Banjar Bungas layak dikunjungi oleh wisatawan.  Sejumlah satwa yang menjadi daya tarik pengunjung adalah orang utan, kera besar, bekantan, owa-owa, menjangan, komodo, sejumlah burung, dan sepasang buaya rawa berukuran besar, serta puluhan anak buaya yang ditangkarkan.